Malam Panas di Balkon Atas

Lampu kota berkilauan di bawah balkon apartemen Tante Alena. Angin malam meniup rambut panjangnya yang tergerai. Gaun hitam tipis yang ia kenakan bergerak pelan mengikuti hembusan angin.


Di belakangnya, Adrian berdiri memperhatikan tanpa suara.


“Kamu sengaja pakai baju seperti itu?” tanya Adrian akhirnya, suaranya berat.


Tante Alena tersenyum tanpa menoleh. “Seperti apa?”


“Seperti mau bikin orang lupa diri.”


Ia akhirnya berbalik. Tatapannya tenang, tapi penuh permainan.


“Dan kamu lupa diri?”


Link Live  HK Draw Cepat


live draw hk


live hk


live draw hk cepat


Adrian melangkah mendekat. “Sejak pertama kali lihat kamu tadi.”


Jarak mereka tersisa satu langkah. Angin malam terasa kalah panas dibandingkan tatapan mereka.


“Tante tahu kamu makin berani sekarang,” bisik Alena.


“Mungkin karena Tante selalu menantang.”


Alena mengangkat alis. “Menantang bagaimana?”


Adrian mengangkat tangannya, menyentuh pinggangnya perlahan. “Setiap kali Tante mendekat, tapi tidak pernah benar-benar membiarkan.”


Alena tidak mundur. Justru mendekat setengah langkah hingga dada mereka hampir bersentuhan.


“Kalau sekarang Tante biarkan?”


Adrian menarik napas dalam. “Jangan main-main kalau nggak siap.”


Alena tertawa pelan. “Siapa bilang Tante nggak siap?”


Hening sejenak. Hanya suara angin dan detak jantung yang semakin cepat.


Adrian akhirnya mendorongnya perlahan ke pagar balkon, tubuhnya mengurung tanpa menyakiti. Tangannya naik menyentuh rahang Alena, ibu jarinya mengusap bibirnya pelan.


“Sejak kapan kamu sadar aku menginginkanmu?” bisiknya.


“Sejak kamu berhenti memanggilku ‘Tante’ dengan nada sopan,” jawabnya lirih.


Adrian tersenyum tipis. “Sekarang nadanya seperti apa?”


“Seperti pria yang sudah tidak sabar.”


Kalimat itu membuat Adrian langsung mencium bibirnya—lebih dalam dari yang ia rencanakan. Alena membalas tanpa ragu, tangannya masuk ke rambut Adrian, menariknya lebih dekat.


Angin malam terasa semakin liar.


“Tante…” napas Adrian berat di dekat telinganya.


“Iya?”


“Kalau kita lanjut… kamu nggak akan menyesal?”


Alena menatapnya dengan sorot mata dewasa dan penuh kendali. “Yang berbahaya bukan penyesalan. Yang berbahaya itu… kalau kita berhenti sekarang.”


Adrian tersenyum nakal. “Jadi jangan berhenti.”


Tangannya turun perlahan menyusuri punggung Alena, membuat wanita itu menggigit bibirnya pelan. Gaun tipisnya membuat setiap sentuhan terasa lebih nyata.


“Kamu tahu cara bikin Tante kehilangan kontrol,” bisiknya.


“Padahal dari tadi yang kelihatan pegang kendali itu Tante.”


Alena membalik posisi, kini Adrian yang sedikit terdorong ke dinding balkon. Ia menekan tubuhnya perlahan, menatap dalam.


“Jangan kira wanita matang tidak tahu cara bermain,” katanya lembut namun tegas.


Adrian menelan ludah.


Ciuman berikutnya lebih panas, lebih dalam, lebih penuh hasrat yang sejak lama tertahan. Tangan saling mencari, tubuh semakin tanpa jarak.


Lampu kota tetap berkilau seperti tak peduli apa yang terjadi di atas sana.


Dan malam itu, bukan hanya udara yang terasa panas—tapi dua orang yang akhirnya berhenti berpura-pura tidak saling menginginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *